Sewaktu gue masih SD, gue cukup sering berlibur ke Bandung ke tempat kakak gue sewaktu ia masih kuliah. Dan menyenangkan bagi gue saat itu, dengan iklim dan suasana yang beda dengan di kampung gue. Waktu itu Bandung masih asri, banyak pohon besar di tepi jalan, dan tidak terlalu banyak angkot berjubel di jalanan. Bahkan dari Dago Timur ke Simpang Dago hanya perlu membayar 100 rupiah saja.

Sekarang, bagi yang sering ke Bandung, atau ada di Bandung sudah tau wajahnya seperti apa. People changes, this city also changes. Bangunan baru, jalanan baru, wajah kota ini menjadi tampak lebih bergaya ketimbang jaman-jaman itu. Nah efeknya pun, sampah pun ikut berwajah baru, meski bentuknya itu itu juga. Tidak lagi sampah malu-malu berada di mana-mana. Bahkan di tempat yang tidak seharusnya ia berada. Meski gue bukan asli Bandung, tapi setidaknya gue sudah cukup disiplin dengan tidak membuang sampah seenaknya meski itu hanya sebungkus plastik permen atau tisu. Kocek gue terkadang penuh dengan sampah2 itu, hanya kerna gue ga menemukan tempat sampah.

Sampah Simpang DagoSeperti yang ada di gambar, soal sampah di Simpang Dago memang menjadi hal yang banyak dibicarakan orang. Ketika tempat penampungan sampah di daerah pinggiran Bandung dilanda longsor yang menimbulkan korban jiwa, sampah banyak menumpuk di banyak tempat yang bahkan tempat umum yang tadinya bersih dan rapi. Pemerintah kota saat itu terbilang lamban menyiasatinya, padahal Bandung dikenal sebagai Kota Kembang, yang pastinya orang-orang akan terkesan dengan kota yang bersih, rapi dan nyaman. Entah ada di daftar “gerak cepat” atau tidak, setelah banyak tuntutan keras dari pihak masyarakat barulah pemerintah bergerak.

Foto yg gue ambil ini menangkap basah sampah yang nongkrong di trotoar tengah simpang dago.

« »