This entry was posted on Saturday, July 5th, 2008 at 5:05 pm and is filed under The Weekend. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
Site Search:
July 5, 2008
Biang kerok kemacetan jalan Dago weekend kemarin adalah peresmian sebuah Factory Outlet (baca:belanja murah dan biang macet) bernama Seximo. Pemilihan nama tersebut pasti ada pertimbangan khusus dari pemilik atau stakeholders, mungkin agar gampang diingat para pelancong-pelancong kota Bandung agar weekend depan nanti bisa ngeramein jalanan dago lagih.
Tempat peresmian tsb mengambil FO yang sebelumnya sudah lama ada di situ tetapi nampaknya kurang begitu berhasil meningkatkan rating pengunjung dan kalah bersaing dengan tetangganya sehingga menyebabkan kerugian dari pihak lama, mungkin kemudian memutuskan untuk menggunakan nama baru, atau memang pemilik baru. Gue rasa sih konsepnya ga terlalu heboh atau berbeda dari sebelumnya. Apa sik yang dilihat dari FO-FO yang ada, barang-barang ditawarkan standar saja, cukup banyak kalah kualitas dengan yang ada di mall atau butik. Inginnya menawarkan harga yang lebih murah tetapi buat gue banyak yang pas-pasan. Hanya karena dibalur dengan interior yang lebih mewah ketimbang toko baju biasa di pasar. Sekarang marak FO di Bandung diberi fitur tempat makan sembari untuk para suami atau pria-pria bahkan anak-anak menunggu istri, pacar dan ortunya belanja. Konsep ini dimaksudkan untuk menarik lebih banyak lagi pengunjung dan agar tidak jenuh dengan shopping-dgn-harapan-dpt-baju-yang-lebih-murah.
Kembali ke Seximo tadi, daya tarik peresmian acara tsb dilakukan salah satunya dengan menampilkan model-model sexy di tengah pembatas jalan, berdiri berjejer bagaikan manekin hidup memamerkan lekuk tubuh mereka yang bohay kepada rakyat yang lewat, mereka pedagang keliling, rakyat yang rumahnya ga jauh dari situ, dan pengunjung FO lainnya. Tidak canggung pastinya karena dibayar mahal; pleus kamar hotel setelah acara dengan pria genit (meureunn mah nu ieu). Gue bermaksud ke Warung Pasta di jalan Ganeca sore itu, akhirnya turun dari angkot, nanggung juga untuk bertahan di angkot. Gue bisa apa to, mereka punya modal untuk membuat seperti itu, ga bosen-bosennya membangun kerajaan FO di jalanan Dago. Bahkan sampai ada marching band segala lho untuk memeriahkan acara. Sah-sah aja memang.
Inti dari kisah kali ini sebenarnya adalah menyorot (lagi-lagi) hari-hari di penghujung minggu. Sudah cukup biasa melihat pemandangan kota Bandung yang macet gara-gara invasi warga kota lain untuk menikmati jajanan dan belanja murah di kota Bandung yang berjulukkan Kota Kembang. Sudah cukup sering warga Bandung atau orang-orang yang tinggal di Bandung mengeluh hal yang serupa, “Bandung macreett”. Perolehan keuntungan travel-travel yang kian menjamur di Bandung semakin meningkat seiring menaiknya jumlah penumpang yang mengkonsumsi jasa ini sebagai alternatif jasa umum seperti bis dan kereta. Para penyedia jasa transportasi nampak agak kewalahan juga tetapi sekaligus senang, bagi mereka ini adalah keuntungan besar dalam kehidupan mereka.
Bagaimana sebaiknya menyikapi hal seperti itu, Bandung di kala dulu memang beda banget kondisinya. Bagi sebagian orang Bandung asik dan nyaman buat istirahat dan jalan-jalan. Pertimbangan lainnya adalah karena masih terhitung murah dari segi makanan, dan jarak kota Bandung tidak begitu jauh lagi terasa, hanya 2 jam-an ditempuh via tol Cipularang. Gue meskipun bukan asli Bandung pun ikut prihatin dengan kondisi weekend sekarang-sekarang ini di Bandung. Sudah merupakan hak setiap orang untuk mendapatkan suasana yang beda dari kota asal mereka, ya Bandung emang bikin ngangenin bagi banyak orang. Termasuk gue, yang masih ngekost di Bandung walau sudah kerja full di Jakarta. Sekarang hanya bisa akhir pekan saja menyambangi kasur yang nyaman di kamar kost seharian…
Macet di Bandung, pain in the ass …
read comments (2)


July 10th, 2008 at 12:17 am
Ah…masa’ ????
??? Masa’…aH
[Reply]
August 5th, 2008 at 5:35 am
Seximo….maHaaaaaLLLL!!!! :p
[Reply]