Bangka - On Vacation

Author: Ikez
August 8, 2008

Day 1
Seneng bisa pulang kampung sebelum harga tiket pesawat melonjak. Seperti biasa, kita disuruh dateng cepet ke bandara, tapi pesawat take off-nya molor sejam dari jadwal. Memang sik daripada mepet2 dgn keberengkatan jadinya grasak grusuk mendingan nyantai dulu di waiting room, cuman ya kelamaan.
Penerbangannya lancar, cara pilot kali ini mengendalikan pesawat saat take off dan landing cukup smooth. Ga ada kendala berarti selama perjalanan kemarin, hanya saja kurang sreg dengan pramugarinya yang beraut muka jutek. Tapi gue akui kalo pramugari Sriwijaya Air lebih cantik ketimbang maskapai penerbangan domestik yang lain. Wekekek

Tiba di Pangkalpinang sudah mendekati magrib, dijemput bapak ibu dan kakak. Terus langsung ke tempat foto untuk bikin pas foto yang buat urus surat KTP, gue butuh KK beralamatkan Jakarta. Yang nantinya buat ngurus paspor dan visa ke Afrika.

Setelah magrib, terus ke rumah bibi yang mengadakan acara sedekahan yaitu tradisi bibi sejak lama menyambut bulan puasa. Gue ga terlalu memusingkan apakah tradisi tersebut perlu atau tidak jika dilihat dari segi agama, gue hanya memikirkan makanannya apa aja, dan sebanyak apa gue nanti makannya hehehe. yak, semalem gue makan 3 piring lebih.

Pulang ke rumah, listrik masih padam. Sungguh hebat Perusahaan Litrik Negara ini, alasan klise apalagi? Kita kok mau-maunya dikacangi sama PLN. Ini kan hak kita juga untuk mendapatkan kehidupan yang layak dengan ketersediaannya listrik. Malam pun ditutup acara makan pempek Palembang dengan cahaya temaram, yang dibawa sama ibu langsung dari Palembang yang kemarin ke sana dalam acara nikahan sepupu gue, Feby.

Day 2
Bangun pagi, sarapan mie goreng. Siap-siap ke keluar kota, kota Muntok atau Mentok, yang dulunya tempat peleburan timah.
Perjalanan di pagi hari tidak macet, udara masih segar, cukup jauh yang ditempuh kurang lebih sekitar 3 jam lebih. Tujuannya ke sana sebenernya adalah menemani kegiata bapak yang profesinya selaku pengacara bagi kaum kecil yang teraniaya. Ada yang dibanggain dari bapak, kerna sering membela kaum kecil di daerah-daerah yang jauh dan terpelosok, cukup sering bapak hanya menerima bayaran berupa buah-buahan hasil kebun mereka, bahkan ada yang benar-benar tidak mampu bayar, tapi tak mengapa bapak tetep lanjut dengan profesinya, karena mahfum dengan kondisi yang dijalani oleh mereka kaum kecil. Hanya saja ada juga yang memanfaatka kebaikan bapak, dengan cara kabur tidak membayar hasil kerja keras keringat bapak memenangkan kasusnya. Apapun itu yang bapak dapatkan pastinya akan mendapatkan balasan yan setimpal, walaupun tidak berbentuk materi nominal uang.

Di tengah perjalanan, gue ditelfon oleh mas Fajar dari Trijaya FM Bandung, mengundang gue untuk hadir di acara Talk Show on Air mengulas seputar komunitas BBV, berhubung gue ga bisa mencoba untuk menghubungi teman-teman lain untuk datang, ternyata ga ada yang bisa juga, sudah terlalu padat untuk akhir pekan. Akhirnya akan diundur minggu depannya lagi.

Selama perjalanan juga, gue melihat suatu pemandangan yang memprihatinkan, di setiap gas station yang kami lalui di jalan dipenuhi dengan antrian truk, mobil, dkk untuk mendapat jatah BBM. Antrian yang begitu panjang, dan mereka bersedia untuk mengantri dan bermalam di dekat SPBU yang ada. Sesampai di kota tujuan pun, setiap SPBU terlihat pemandangan yang sama, antri yang mengular.

Shalat Jum’at di mesjid Baitul Hikmah, rasa kantuk menyerang hebat. Setan-nya ternyata bukan hanya di Jakarta aja kalo Jumatan datang mengganggu mata ini terasa berat dan tidak menyimak khotbah. Yang salah entah guenya entah si khotib, topiknya agak melantur dicoba dipaksakan untuk saling berkorelasi, rada bertele-tele sehingga terasa panjang sekali.

Selepas jumatan, persediaan bensin di mobil sudah menipis, yang kemudian ikut mengantri bersama truk, mobil yang antrian di SPBU. Sembari menunggu/mengantri, kita makan siang di mobil. Ibu bawa bekal nasi dan lauk dari rumah. Waktu yang pas untuk makan siang, dan semuanya makannya lahap :)

Ketika sudah mendekati SPBU hampir sejam menunggu, rupanya persediaan bahan bakar habis total yang mau ga mau membuat pengantri serempak koor “huu” dan klakson pun ikut meramaikan suasana. What? Selama sejam nuggu eh malah habis pas uda deket. apes dah. Akhirnya kita lanjut lagi cari bensin jual eceran di kampung-kampung yang harganya tentu saja lebih mahal yaitu 10ribu per liter. karena sudah kepepet, tidak ada option lain.

Kerna sudah mendekati sore, gue pun driving fast yang membuat bapak berpegangan kuat heheh, belum tahu kalo anaknya sopir transjawa hohoho (dulu pernah nyasar sepulang dari candi Borobudur, nyasar sedikit keliling jawa).

Perjalanan ini [un ditutup dengan kunjungan ke rumah sodara di Parit Tiga yang juga menjemput buah berulit durian, apalagi kalo bukan Durian! Hanya saja musimnya sudah berlalu jadinya hanya dapet beberapa saja, tapi cukuplah buat kami. Yang menjadi inceran durian jenis unggul dengan nama Durian Tai Babi, entah kenapa dibikin namanya begitu, dun ask me why. Tapi jika kalian belum tahu, itu rasanya manis banget, isinya gede-gede, bijinya kecil, buahnya gede bgt. So pantas lah dibilang unggul dari segi rasa, bentuk dan kepuasannya.

Sempet ada adegan yang tak terduga, kamera digital gue sempet direbut oleh seekor monyet kecil, namanya Luki oleh si majikan. Kamera ini bisa berada di tangannya setelah dia berhasil merebut dari tangan gue akibat gue yang lengah dan terlalu dekat posisinya, alih-alih mau ambil gambar close-up si monyet. Setelah berhasil direbut olehnya, kamera pun sempat terbanting ke lantai.. huhu.. lecet-lecet pula. untungnya masih bisa jalan, kalo rusak bisa nangis darah, atau bisa gue sembelih tu monyet (kayaknya sik ga mungkin ya, wong majikannya gendut muka galak gitu).

Pulang badan gempor-gempor, jadi supir emang melelahkan.

Day 3
Bangun pagi hanya sedikit telat, maklum masih berasa ngantuk banget, perjalanan seharian penuh kemarin menguras energi. Terus ikut ibu pergi ke Pasar Pagi. Dulu sewaktu kecil jaman sekolah gue sering ikut ibu ke pasar ini, dan sering merengek minta beli ini itu, banyak maenan, makanan yang mengundang rasa suka buat anak kecil semasa itu. Dan tentu saja ibu tidak serta merta menuruti keinginan gue, karena ga mau dibiasain jajan-jajan yang ga penting. Di pasar ini pun biasanya banyak cerita, kalo ibunya si A, si B, si C uda ketemu pas-pasan di pasar bercerita ini itu, so jadi bisa dibilang juga Pasar merupakan media infotainment di mana segala berita, cerita, gosip berkumpul dan menyebar. Fortunately, ibu gue bukan tukang gosip heheh.

Sebelum mengakhiri belanja di pasar, mampir bentar untuk membeli otak-otak Bangka. Nyum-nyum, sudah lama sekali tidak merasakannya yang khas sekali, apalagi cukanya itu. Memang tidak seperti dijual di Jakarta, Bandung dan kota lain. Dan gue langsung berencana untuk membawanya ke Jakarta, bukan untuk dijual tetapi dibagikan kepada sesama. Lihat saja nanti.

Siang selepas tengah hari, gue bersama kakak, ibu, bapak, dan temen deket kakak pergi ke Pantai Parai, yang kemarin saat isra’ mijraj ada SBY dateng dan menginap di penginapan pantai Parai. Akhirnya gue bisa berkunjung ke Pantai yang cukup indah ini. Banyak infoseputar pantai ini di majalah-majalah, bahkan tivi. Foto-fotonya menyusul ya. Setelah puas foto-foto, ada insiden kecil tapi berdarah. Ibu gue sempet tersandung di daerah bebatuan, dan kening ibu langsung mengucur darah. Gue yang sempet berpose untuk foto-foto sontak langsung menghampiri dengan perasaan was-was. Melihat posisi ibu yang sedang jatuh dan berdarah sempat membuat darah gue mendesir. Tapi, untungnya baik-baik saja. Hanya luka kecil meskipun bagi gue cukup mengerikan. Setelah diobati di bagian perlengkapan dekat resto pantai. Keadaan kembali normal. Hanya saja gue merasa ga nyaman dengan kejadian tersebut. Tujuan ke pantai ini untuk menikmati pemandangannya yang indah, dan ini karena keinginan gue pula. Gue bersyukur ibu masih dalam kondisi baik-baik saja.

Info seputar penginapan di Pantai Parai, harganya sekitar 800ribu untuk 1 cottage, sementara yang doublecottage sekitar 1.200.000-an. Hari sudah menjelang sore, dan kita pulang dengan dibalur keletihan yang sangat.

Foto-fotonya bisa diakses di sini.

Day 4
Bangun kesiangan. Sarapan mi goreng. Siangnya berangkat lagi ke keluar kota, kali ini ke Pantai Bio, Pantai Tanjung Pesona, dan Pantai yang dekat dengan Kuil. Perjalanannya cukup jauh, lebih jauh dari pantai Parai kemarin. Suasanya masih sepi dan alami. Kerna memang belum banyak orang yang tahu atau berkunjung ke pantai Bio. Asal usul namanya gue ga tahu persis. Desas-desusnya beberapa tahun silam lamanya, dekat pantai situ pernah ada kejadian menghebohkan yaitu ditemukan mayat polisi yang dibenamkan di pinggiran pantai oleh sekelompok penyelundup timah. Kondisinya sudah cukup tragis. Jalan ke arah sana setengah tanah merah, setengah aspal. Dan ada satu jalan di pertigaan yang menuju pantai angker, warga setempat menyebutnya dengan Pantai Hantu. Sempet terbersit untuk ke sana :D

Setelah puas safari pantai hari ini, makan malam dibikinin nasi goreng sebakul banyaknya, rasanya juara banget, minimal harganya 15ribu kalo dijual. Terus disambung acara makan martabak manis khas Bangka. Tahu dong yang manis banget itu, gue aja cuman sanggup makan 3 saja.

Day 5
Pesan otak-otak untuk dibawa ke Jakarta, dan oleh-oleh lainnya khas Bangka seperti cumi kering, kemplang rasa udang dan cumi, dan banyak lagi. Sebesar kardus.

Day 6
Prepare to go home, and Siwijaya Air dengan harga yang mulai naik menjadi 500ribu kurang ceban. Selang tiga hari berikutnya naik menjadi 800ribu per kepala. Yikes..




Leave a Reply