Ikhlas
Kemarin ada kisah menarik, walau mungkin tidak juga terlalu sensasi, gue hanya ingin sedikit berbagi cerita. Selepas jalan-jalan di Mal Ambasador menemani Dinoy dan ibunya belanja, gue berencana pulang naik ojeg saja ke tempat kos Setiabudi. Ojeg yang berjejeran di depan mal sudah ramai melambai dan menawarkan jasanya. Ketika sampai pada tahap negosiasi, si tukang ojeg meminta bayaran lebih dari biasanya gue pernah alami. Apakah ada kaitan stelan pakaian kerja gue jadinya dimahalin? Sementara gue keukeuh dengan harga yg gue inginkan, dia lalu bereaksi ngambek, seperti anak kecil, sok ogah-ogahan lalu mengopernya ke kawan sebelahnya, walaupun hasil negosiasinya pun sama.
Gue tatap mata si tukang ojeg sekian detik tanpa bersuara, gue pun langsung berlalu. Walau yang diperdebatkan adalah nominal yang termasuk kecil atau remeh temeh, saat itu gue ga ingin mengeluarkan sekian nominal. Mungkin gue terlalu berlebihan melakukan hal itu, mereka tukang ojeg juga bukannya rakyat biasa juga, yang tidak seberuntung gue dalam mencari uang? Bisa jadi. Tetapi kehidupan kota besar, kita pun harus pandai-pandai memilah, menilai, mana yang layak atau pantas dihargai sekian. Terkadang banyak orang yang tidak jujur untuk mencari nilai lebih, tentu saja akan sangat menguntungkan terlebih dari orang-orang yang tidak mengetahuinya.
Setelah sekian meter jalan kaki ke arah Rasuna Said, ada seorang bapak-bapak berkendara sepeda motor, menawarkan jasanya, dengan negosiasi cepat tidak pake lama (GPL), langsung saja gue dihantarkan ke tujuan. Sepanjang perjalanan dia banyak bercakap-cakap, terutama perihal rezeki dari aktifitas mengojeg. Bahkan sesampai di tujuan pun beliau masih juga berbicara panjang lebar, soal kejujuran, keikhlasan, rezeki, bahasanya cukup religius yang meluncur dari mulut seorang tukang ojeg dengan pakaian sederhana agak kumal. At a glance, dia tampak seperti orang yang baik. Semoga saja memang bapak yang baik-baik. Sedikit terenyuh, dan gue kasih lebih dari harga nego sebelumnya. Gue ga merasa rugi juga dengan memberi lebih, karena ada asupan pelajaran hidup dari orang lain. Bukan semata didasarkan rasa kasihan. Suatu hal yang bisa diambil hikmahnya, poinnya adalah “jangan mudah mengeluh”. Rezeki bisa datang kapan saja, dia sudah cukup ikhlas dari apa yang didapatkannya dari ngojeg. Walau cuman mendapat untung 5000 saja, itu sudah dianggap rezeki baginya. Tentu tidak lupa menyematkan doa di setiap harinya. Mungkin ini remeh bagi banyak orang di kota besar ini, penuh dengan ambisi cepat kaya, tidak bisa hanya mengandalkan usaha yg itu-itu saja, apa yang dilakukan dan dialami oleh bapak tadi mungkin adalah hal yang mustahil bisa dijalani oleh manusia-manusia kota besar yang angkuh, congkak, dengki dsb. Mungkin saja terbilang tidak juga orang seperti bapak tsb. Dia lalu menawarkan jasa untuk mengantarkan kemana saja jika diperlukan. Ini bisa bermanfaat buat gue nantinya, jika susah taxi atau transport lainnya.
Seperti 2 hari ini saat makan siang membicarakan perihal kasus salah satu artis dangdut terkenal, dan kelakuan artis/seleb lainnya yang mengalami hal serupa (kurang lebihnya) sebelumnya. Apakah mereka tidak bisa mengambil pelajaran besar dari sesama profesi? Coba inget-inget lagi siapa saja artis ibukota yang terjerumus dalam kasus perceraian dan perlakuan pasangannya? Dari sekian seleb yang ada, mereka lebih senang memilih para pengusaha yang notabene banyak dokunya. Harta, mungkin itulah yang membutakan mereka, yang kemudian mempermalukan diri mereka sendiri. Apakah mereka tidak merasa cukup dari apa yang sudah mereka dapatkan dari profesi masing-masing? Apakah mesti pengusaha untuk dijadikan seorang suami? Apakah terlalu rendah untuk bersama dengan orang biasa tetapi mau bekerja keras di jalan yang halal?
Too picky, tapi ga bisa menyalahkan sepenuhnya juga, pilihan dan hak masing-masing orang, tentu saja konsekuensinya dirasakan masing-masing. Mungkin mereka belum bisa merasa ikhlas, nerima rezeki yang sudah ada, selalu ingin lebih dan lebih, itu sudah hal dasar manusia.
Meda:
hmm … dalem nih. yaah intinya mah, kita sukurin aja apa yang udah kita dapet. masih banyak orang yang tidak seberuntung kita. ;-)
*jadi kapan kita makan nasi padang ke? :-P*
Posted on June 23rd, 2009 at 7:39 pm
Meda:
yaah gambarnya jelek! ganti ah …
Posted on June 23rd, 2009 at 7:40 pm
Ikez:
nasi padang, nasi tumpeng….. :D
Posted on June 25th, 2009 at 10:12 am
Dinoy:
aku mau nasi padang sm tumpeng jugak!!!! :D horee…ditraktir mbak Meda. :P
Posted on July 24th, 2009 at 12:51 pm
poetra:
Setuju buj.. setujuuu…
*berniat mencetak postingan ini dan memberikannya kepada Asmiranda*
Eh eh Medaaa, lama tak besuaa.. kenapa aku tak bisa membuka blogmu yang alamatnya susahnya minta ampun itu :D
Posted on September 8th, 2009 at 2:52 am