Sarana ojeg cukup membantu bagi penggunanya untuk sampai di tujuannya lebih cepat ketimbang menggunakan sarana transportasi umum lainnya, karena bisa dihandalkan dalam situasi jalanan yang macet dan sempit. Seperti biasa jika agak telat berangkat kerja, gue memanfaatkan jasa ini untuk mempercepat perjalanan ke kantor.

Jika ada penampakan gue dari jauh terlihat di tempat mangkal ojeg gang mereka sudah saling memberi kode, bahwasanya pasti gue bakal pakai jasa mereka. Tidak selalunya juga, terkadang mereka gue bikin ‘kecele’, karena gue hanya lewat saja atau memakai jasa taxi.

Dan, pagi ini gue hampir terlambat lagi dan seperti biasa tetap santai karena gue percayakan kepada tukang ojeg untuk menyiasati pagi ini untuk tidak terlalu telat masuk kantor. Setelah naik tadi, gue sempat memperhatikan sesuatu yang agak mengganjal di pikiran karena sebelumnya juga pernah merasa ganjalan seperti ini juga. Setiap kali gue naik ojeg, dan melewati pangkalan ojeg lainnya kok seperti ada yang ‘berkomentar’. Yang kali ini gue sempat menangkap basah salah satu dari mereka dengan mimik muka yang kurang elok sambil berteriak tidak jelas, tapi jelas dengan nada yang kurang baik pula, seperti  nada ketidaksukaan kepada orang lain.

Gue pikir ini ada hubungannya dengan kompetisi sesama mereka. Cukup banyak pangkalan ojeg bertebaran di daerah gue tinggal, Setiabudi. Satu pangkalan saja bisa ada banyak. Bahkan hampir setiap sudut gang atau jalan kecil ada pangkalan ojeg, dan itu pun berdekatan. Profesi seperti ini hanya bermodalkan motor dan helm. Tidak ada yang melarang mereka untuk bekerja sebagai tukang ojeg karena itu sah-sah saja. Tapi ini sudah terlalu banyak, terkadang seperti ada persaingan yang kurang sehat. Ada yang rebutan ada juga yang memakai cara giliran.

Mereka tidak disuruh menjadi tukang ojeg, tetapi juga mereka tidak boleh sesuka hati di dalam memberi pelayanan jasa ojeg. Keselamatan penumpang ojeg pun mesti diperhatikan, seperti menyediakan helm untuk penumpangnya, masih banyak mereka yang tidak ada kesadaran seperti itu, kalau pun ada itu hanya karena ‘takut sama polisi’ semata, bukan pertimbangan tadi. Banyak juga mereka yang lusuh, kumal, dan berpenampilan preman (seolah-olah ‘awas sampeyan ngasih uang ojeg cuman sedikit!’). Berprofesi seperti ini juga bagian dari mencari nafkah, termasuk jihad juga. Tentunya hal kebersihan diri menjadi bagian dari pelayanan yang baik juga, bukan? Memang mereka sering berada di jalan sehingga sering terkena panasnya matahari, dinginnya hujan. Tapi kebersihan diri juga kudu diperhatiin.

Just a thought.

« »