Tadi malam, ada seseorang di seberang sana sambil memegang handphone dan sebuah buku di tangan satunya lagi. Butuh keahlian handal untuk berlaku kedua-duanya yaitu membaca dan mengirim/membalas SMS dalam waktu yang bergantian dan cepat. Bukunya itu berjudulkan Why Men Don’t Listen and Women Can’t Read Maps, ya ya mungkin judulnya sudah tidak asing lagi bagi yang suka baca-baca. Yang sudah baca sudah tau lah yak ga usah gue tulis-tulis lagi. Jadi intinya, ia bertanya kepada gue perihal berlama-lama menunggu seseorang yang kamu sukai di sebuah salon dimana memakan waktu yang cukup lama, bisa berjam-jam. Ia menginginkan jawaban jujur dari gue mengenai hal itu. Hmm.. berhubung guenya lagi ingusan (maksudnya pilek) yang mana mengganggu performance otak gue (ingus-ingus itu masuk ke kepala dan mengkontaminasi bagian dalam otak), tapi tetap gue berusaha keras menjawab sebisanya, yang jelas gue jujur. View full article »
Category: Bloggerians
Ku tak tahu mengapa
tiba2 sahaja di dalam hati ini
sering rindu padamu
inginku mengeluarkan, tak berdaya
ku tahu engkau jua sangat sayang padaku
kau pun sering merindu bila tidak bertemu
ternyata kau dan aku pendam rasa
[chorus]
kau dan aku sudah ditakdirkan bertemu
dan tiba2 kita jatuh cinta
ini semua sudah suratan ilahi
dan kita harus hadapi kenyataan
biar apa pun terjadi
aku harap engkau tabah
menerimaku sebagai teman barumu
semoga kita saling sayang, bahagia
janganlah engkau pergi
selagi di hatiku masih menyanyangimu, oh sayangku
[chorus]
*sering gue nyanyiin di karaokean. Lirik ini susah kali cari di Google.com, akhirnya gue berkeputusan untuk menuliskannya di sini.
Sing also :
- Ukays – Di sana menanti di sini menunggu
- Spoon – Rindu Serindunya
Banyak hal dan kejadian yang tidak sempet gue tulis, sebelum hari ini. Dan kembali gue stuck untuk menuliskannya. Temen bilang, “kenapa ga ditulis aja tentang stuck itu sendiri?”. Lagipula ga perlu menuliskannya dengan panjang lebar kan, satu baris kalimat, atau bahkan 1 kata pun sudah cukup mewakili. So gue skip aja yang kemarin-kemarin. Gue tulis saja yang masih hangat bagi gue. View full article »
Beberapa hari lalu, gue menamatkan 4 season film serial The Pretender, gue ambil cuplikan dialog mengenai cinta di salah satu episode yang menurut gue suatu dialog yang ringan tapi mengena. Ketika Jarod yang merupakan Pretender bertanya kepada ‘bapak asuh’-nya, Sydney :
Jarod : Why do people fall in love?
Sydney : You might as well ask why the stars come out at night.
Jarod : Everyone spends their whole life searching for that special someone, that person to love. But when they finally find them, it all falls apart.
Sydney : It’s paradox, isn’t it?
Sydney : But I believe it’s better to have loved and lost than never to have loved at all.
Jarod : So, you believe that love is worth fighting for. That it’s worth the pain and the effort? View full article »
Sudah kebiasaan gue kalo lagi makan di luar, di warung atau rumah makan mana pun kalo di situ ada pipet di gelas teh manis, atau teh botol dan semacamnya, setelah habis pake langsung gue hancurin atau gue bakar dengan pemantik. Sama juga halnya jika makan mi yang pake cotet biasa, langsung gue patahin. Buat apa sik kayak kurang kerjaan? Gue emang rada parno jugak kalo pipet habis pake minum teh (botol) itu dipake lagi sama yang jualnya. Mana kita tau kan? Mana kita bisa jamin juga kalo yang namanya makan di luar rumah itu higienis. Nyucinya bisa ngasal gitu. Orang kalo uda kelaparan kadang suka ga mau ambil pusing lagi mikirin yg gituan, kecuali yang masih punya tenaga ekstra buat mikirin gitu, aware istilahnya. View full article »
